MANUSIA
Aku beruntung tidak pernah tertarik dengan partai politik, sehingga oleh karenanya aku tidak pernah memilih sebuah partaipun, dan oleh karenanya juga tidak pernah merasa memiliki sebuah partai; dan sehingga ketika begitu banyak orang pada sibuk bersitegang saling menjelekkan partai lain, aku sendiri sih cool-cool aja tuh. Atur aja, pikirku.
Beruntung pula aku tidak pernah terlalu menyadari bahwa aku orang madura, sehingga oleh karenanya aku tidak pernah merasa memiliki madura; dan sehingga ketika orang beramai-ramai menjadikan etnik madura sebagai bahan lawakan, aku sih nyantai-nyantai aja.
Beruntung pula aku tidak pernah terlalu mengagung-agungkan islam sebagai agamaku. Memang aku mengikuti prinsip-prinsip islam dalam menjalani hidupku ini, karena aku melihatnya sebagai yang paling cocok untukku [mungkin juga karena sudah kadung terbiasa]. Tapi, yah, sekedar itu. Aku tidak pernah merasa perlu untuk memiliki islam, seolah islam adalah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai milik. Karena islam memang bukan sesuatu untuk dimiliki, bukan? Dan memang tidak akan bisa, toh? Maka, ketika orang pada tidak memandang sebelah mata islam, dan lebih mengagung-agungnya yang lain, aku sih ga bergeming tuh. Bagiku islam adalah sebuah sistem nilai, yang silahkan orang meneladaninya kalau berhasil melihatnya sebagai sistem nilai yang oke, dan silahkan juga untuk meninggalkannya, kalau engkau tidak melihatnya sebagai sistem nilai yang oke. Nyantai aja.
[Bagaimana menurutmu, kalau engkau ke barat ke timur mengagung-agungkan islam dalam mulut, tapi tidak dalam laku? Engkau benar ataukah engkau hanya akan mencoreng nama baik islam?]
[Ini seumpama engkau, seorang pria dari gunung kidul, yang mungkin belum pernah menginjakkan kakinya di Jakarta barang sekalipun sepanjang usia hidupnya, dan pastinya belum pernah berada dalam radius 2 meter dari seorang Demi Moore; lalu tiba-tiba mengaku-ngaku bahwa dirinya pernah memperistri Demi Moore itu. Sia-sia dan tidak lucu, khan?
]
Tapi, Yang selalu paling utama aku rasakan dan sadari adalah bahwa aku adalah manusia. Aku adalah manusia, dan engkaupun manusia. Dan aku tidak tertarik untuk mereduce kesamaan essensial ini, dan membagi-bagi manusia ke dalam kotak-kotak partai, atau etnik atau bahkan agama.
Kita adalah manusia. Titik.
[Archive, Cilacap, Tuesday, Feb 17, 2009]
December 9th, 2009 at 1:12 pm
iya, iya, tapi ngomongin soal islamnya gak usah ngotot.. emosi ya…
December 10th, 2009 at 10:45 am
sorry … sorry … ntah bagaimana, sungguhpun aku sendiri muslim, insya allah, tapi aku selalu semacam paranoid dengan “pengkhotbah-pengkhotbahnya”, yang bagiku kehadirannya terasa seperti mengancam pihak di luar dirinya …
sorry … itu hanya perasaanku sendiri aja kayaknya …

March 15th, 2010 at 8:53 am
Good post, I can’t say that I agree with everything that was said, but very good information overall:)