IDENTITAS KONSEPTUAL

Monday, March 1st, 2010

Justsomenotes.Jakarta. Kita terjebak dalam beribu Ilusi. Salah satu jenis ilusi yang aku ketahui, bisa saja sekedar, katakanlah, identitas konseptual. Sesuatu yang sebenarnya tidak ada; kita hanya mengira ia benar-benar ada. Kita mengira mereka benar-benar riil.

Ia semacam selubung. Yang berlapis-lapis menutupi inti diri kita yang sejati. Maka adalah tugas eksistensial kitalah untuk dengan sabar melepas selubung demi selubung yang menutupi mata sejati kita. Selubung yang sering dan selalu membuat kita salah memandang sesuatu. Membuat kita salah memahami sesuatu.

Identitas konseptual, yang sebenarnya tidak ada dan hanya kita kira ada, yang sebenarnya justru merupakan selubung yang menutupi cahaya kita yang sejati adalah nama diri, suku, kebangsaan, jenis kelamin, keanggotaan partai, bahkan keterlibatan dalam agama sebagai sebuah institusi. Bahkan pengakuan status hubungan pun juga sebuah ilusi; entah kepangkatan di tempat kerja, atau posisi di rumah tangga. Sebagai suami atau istri. Sebagai boyfriend atau girlfriend.

Dalam selubung selubung itulah kita lalu memandang kejadian dan kehidupan. Hasilnya lebih sering adalah distorsi, kekeliruan. Sangat berbeda kalau kita berhasil membuang selubung selubung tersebut, dan kita berhasil memandang kejadian dan kehidupan dari inti diri kita yang sejati. Kita sebagai manusia. Sebagai human being.

Kita memandang dari mata sejati kita, setelah lepas dari selubung demi selubung. Dan memandang orang lain tidak dalam selubung selubungnya juga, melainkan langsung ke dalam kesejatian diri mereka. Manusia. Human being.

:)

SYARIAT

Thursday, February 25th, 2010

“Ia syariatkan kepadamu agama yang sama seperti yang Ia wasiatkan kepada Nuh, yang Kami wahyukan kepadamu, dan yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa. (Yaitu) tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah dalamnya. Sukar bagi orang musyrik (mengikuti jalan) yang kamu seru mereka (menjalaninya). Allah memilih bagi Diri-Nya siapa yang Ia berkenan, dan Ia membimbing kepada-Nya siapa yang bertaubat.” [Juzu XXV, Asy Syura 13]

Wahai, Allah, Maha Benar Engkau. Betapa sukar bagiku sekedar melanjutkan amal-amal kebaikan kecil dan sederhana, begitu terjatuh aku ke dalam dosa. Menjadi sukar apa pun yang sebelumnya begitu mudah. Menjadi hilang rasa nikmat dalam menjalankannya.

Wahai, Allah, jika Engkau tidak memilihku, tidak menerima taubatku; wahai, apakah mungkin bagiku dapat melangkah walau hanya sejengkal.

Sungguh berat mengagungkan Kemuliaan Engkau. Begitu berat untuk sekedar tidak berpecah belah, sekedar tidak berantakan di dalam diri. Badan, nafs, hati, dan pikiran; betapa mereka hanya membawa kemauan kasar mereka sendiri-sendiri.

Wahai, Allah, bagaimana hamba menjalankan syariat dan wasiat Engkau; tanpa Engkau sendiri yang memilih hamba. Maka, terimalah taubat hamba.

Wahai, Allah, kasihilah hamba.
Amiin.

[Archive, Gayungsari Barat, Kamis, 25 Oktober 2001]

SATU FRAGMENT

Tuesday, February 23rd, 2010

Justsomenotes.Jakarta. Setiap kejadian, sebenarnya terjadi dalam bentuk fragment-fragment kecil. Satu fragment demi satu fragment. Satu fragment setiap satu saat. Sekali terjadi, dan sesudah itu lenyap. Berganti dengan fragment lain.

Tapi, yang selalu menghantui hidup kita, yang seringnya menjadi beban sangat berat di dalam hidup kita; adalah bentuk duplikasinya di dalam pikiran. Atau di dalam perasaan kita. Hasil dari kerelaan kita sendiri untuk mengingatnya kembali, memutar film-nya kembali. Kejadiannya sendiri sudah lampau berlalu, tapi kita masih juga menghidupkannya kembali dalam pikiran dan perasaan kita; dan membiarkannya melukai hidup kita kembali dan kembali.

Dan kejadian itu sendiri, disamping memang sudah lampau, tidaklah berat atau ringan, tidak pula menyakitkan atau menggembirakan. Kejadian itu hanyalah kejadian. Sekedar sebuah tarian partikel semesta. Yang membuatnya menjadi berat atau ringan, menyakitkan atau menggembirakan, adalah kerja pikiran. Adalah penafsiran yang dilakukan pikiran. Dan hasil akhirnya membebani perasaan.

Kita mengabaikan fragment langsung yang sedang dan sepantasnya terjadi saat itu, dan kita justru memutar ulang kembali dan kembali fragment-fragment lama di dalam pikiran. Dan anehnya, justru fragment-fragment yang menyakitkan dan memberati hidup kita, dan bukannya fragment-fragment yang menggembirakan dan menyemangati hidup.

Aneh, memang. Tapi ini sebuah gambaran umum akan kecenderungan narsistik kita. Kecenderungan menyakiti diri sendiri, dan berhadap mendapatkan simpati untuk itu.

Aneh bin ajaib.

:)

PROFIT ORIENTED ONLY?

Saturday, January 16th, 2010

What I have for you is Benevolence and Righteousness, and that’s all. [The Saying of Mencius, Mencius]

Justsomenotes.Jakarta. “Tidak begitu, man. Seorang direktur memang harus selalu memikirkan keuntungan untuk perusahaannya. Itulah tugas direktur. Kalau seorang direktur tidak memikirkan keuntungan, membiarkan saja semua potensi yang dapat menyebabkan kerugian, pada akhirnya perusahaan akan gulung tikar. Dan dia gagal sebagai direktur,” nasehat seorang teman, siang itu.

Aku tidak membantahnya. Karena khawatir, dengan membantahnya, aku hanya akan terseret kepada pembelaan diri. Karena terus terang, aku terlalu terlibat secara pribadi dalam problema ini.

Tapi, aku tahu bahwa pernyataan itu memang benar juga. Secara relative, pernyataan itu memang benar. Cuma tidak sepenuhnya. Tidak semata-mata. Cukuplah dikatakan bahwa disamping kepentingan pragmatis semacam itu, hidup memiliki prinsip-prinsip moral. Sebutlah love, wisdom, righteousness, justice, courage, and so on. Dan prinsip moral semacam ini bukan hanya pantas berlaku di rumah tangga ketika mendidik anak, atau di masyarakat ketika mendidik remaja, tapi juga berlaku even di perusahaan dan dunia bisnis.

Tidakkah anggota rumah tangga, atau anggota masyarakat atau anggota sebuah perusahaan; semua itu adalah mankind juga? Dan all mankind adalah saudara?

Aku lalu teringat dengan Mencius. Baiklah, aku kutipkan saja sebuah sekuel pembicaraan antara Mencius dengan King Hui of Liang.

Mencius went to see King Hui of Liang. The King said: “My good man, since you haven’t thought one thousand li to far to come and see me, may I presume that you have something with which I can profit my kingdom?”

Mencius said: “Why must you speak of profit? What I have for you is Benevolence and Righteousness, and that’s all. If you always say ‘how can I profit my kingdom?’ your top officers will ask, ‘how can we profit our clans?’ The shih and the common people will ask: ‘how can we profit ourselves?’ Superiors and inferiors will struggle against each other for profit, and the country will be in chaos.”

Ah, may your heart be filled with love, joy and happiness.
:)

KESIBUKAN TANPA NILAI TAMBAH

Monday, January 11th, 2010

Take them by confusion .. use anger to throw them into disarray .. tire them by flight .. cause division among them .. attack when they are unprepared [The Art of War, Sun Tzu]

 Justsomenotes.Jakarta. Tapi, ilmu untuk mengalahkan musuh yang diajarkan oleh Eyang Sun Tzu ini, dapat juga kita gunakan untuk menghancurkan anak buah sendiri. Menghancurkan tim sendiri. Sampai sedemikian hingga, kinerja tim atau anak buah sendiri menjadi cukup jelek untuk kemudian dapat dicela dan dinyatakan gagal. Dan kita lalu menjadi superior, karena telah dapat menyatakan bahwa orang lain jelek dan gagal.

 Tentu ini tidak dilakukan dengan segaja. Melainkan karena ketidaktahuan belaka. Tapi, hasilnya sama saja. Kehancuran.

 Is that what you want?

 1.

Ini bermula pada diri sendiri. Ketidaktahuan diri sendiri. Ketidakjelasan vision sendiri. Ketidakmantapan rule sendiri. Lalu, apapun yang hendak dimintakan untuk dilakukan anak buah atau tim, dengan sendirinya juga menjadi tidak jelas. Command isn’t clear. Perintah tidak tegas. Aturan maen membingungkan.

 Hasilnya adalah kebingungan. Bosnya bingung. Anak buah atau tim bingung. Tentu saja produktivitas organisasi menjadi rendah dan tidak bermakna.

 2.

Melihat efektivitas anak buah atau tim rendah, cara paling mudah bos untuk menghandlenya adalah dengan marah-marah. Menjadi egoistik dan tidak manusiawi. Tapi, ketika bos marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi, jangan dikira bahwa yang bisa dilakukan anak buah atau tim hanyalah ketakutan. Anak buah dan tim bisa juga marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi.

 Bos marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi. Anak buah atau tim marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi. Hasilnya adalah ketegangan dan chaos. Pemberontakan. Undiscipliner. Tentu saja produktivitas organisasi tidak dapat diharapkan dalam keadaan demikian.

 3.

Tapi, kejadiannya memang tidak perlu selalu segawat itu.  Boleh jadi sebenarnya bosnya cukup baik. Mungkin hanya kurang smart. Kurang efektif. Perintahnya atas anak buah atau tim hanya tidak bermutu. Tidak bisa memilah-milah mana yang essensial mana sampah. Bisanya sekedar puas telah berhasil memerintah. Puas telah menunjukkan kekuasaan.

 Maka, anak buah atau tim lalu kelihatan sibuk. Organisasi kelihatan aktif. Tapi, ini tidak berarti selalu bagus. It’s not enough to be busy. The question is what you are busy about, khan?

 Orang-orang sibuk. Orang-orang kelelahan. Tapi hasil bisa saja tetap nol.

 4.

Mungkin juga karena engkau punya kepribadian negative, seperti misalnya kecenderungan untuk nge-clique, nge-gossip. Suka bersekongkol dengan orang yang engkau sukai. Tapi, sekaligus juga nge-gossip menjelek-jelekkan orang yang tidak engkau sukai. Engkau sangat permissive kepada orang yang engkau sukai. Engkau sangat kritis kepada orang yang tidak engkau sukai. Reward and punishment rule tidak jalan.

 Maka, hasilnya adalah anak buah atau tim yang terpecah belah. Tidak bersatu. Tidak akur. Kekuatanpun pecah.

 2.

Dalam kondisi demikian, organisasi akan lemah. Tanpa ruh. Jadi, ketika seharusnya ajaran eyang Sun Tzu itu adalah untuk mengalahkan musuh, eh yang terjadi justru senjata makan tuan. Menusuk diri sendiri. Mungkin adalah karena ketidaktahuan. Ketidaksadaran. Kemalasan untuk belajar memahami diri sendiri.

 Kekalahan adalah hasilnya akhirnya.

 So, please, don’t do it deh.

:)

SEJARAH

Thursday, January 7th, 2010

Justsomenotes.Jakarta. Cobalah bayangkan begini; aku terbiasa melakukan sejumlah disiplin pribadi, semacam meditasi 2 kali sehari, pagi dan malam hari, berenang 2 kali seminggu, melakukan yoga atau tai chi masing-masing juga 2 kali seminggu, membaca buku-buku spiritualitas setiap malam sebelum tidur, menulis blog, minum kopi setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, makan siang di taman, memandang sunset setiap sore hari, menabung setidaknya 25% pendapatan setiap bulan, investasi di property, dan seterusnya dan seterusnya.

Melihat aku memiliki vitalitas fisik dan spiritual yang bagus, teman-teman banyak yang menanyakan apa rahasia hidupku. Dan merasa itu adalah bagus juga kalau disampaikan kepada mereka, maka rahasia gaya hidupku itupun aku sebarkan kepada mereka. Semakin hari semakin banyak orang yang mendengar rahasia itu. Dan semakin hari semakin banyak orang yang merasakan bahwa rahasia itu adalah cara hidup yang sangat baik.

Dari mulut ke mulut rahasia bagaimana menjalankan hidup yang baik yang dapat menghasilkan tingkat vitalitas fisik dan spiritual yang tinggi itu semakin menyebar. Dan kalau mereka membicarakan siapa yang mengajarkan semua itu; mereka sama-sama mengatakan itu adalah ajaran herman. Maksudnya, herman yang mengajarkan itu.

Tahun demi tahun berlalu. Untuk memudahkan orang-orang mengingat tentang rahasia bagaimana menjalankan hidup yang baik itu, dan untuk mengatakannya dengan ringkas, sehingga tidak harus menyebutkannya detail dari A sampai Z setiap kali orang ingin membicarakan rahasia bagaimana menjalankan hidup yang baik itu, maka orang-orang mulai menjadi cukup dengan mengatakan ikuti ajaran herman.

Kamu ingin sehat dan bahagia? Ikuti ajaran herman. Kok kamu seperti sakit dan tidak bahagia begitu sih? O, pasti kamu tidak mengikuti ajaran herman.

Lalu orang-orang mulai seperti saling mengelompok. Itu yang tidak mengikuti ajaran herman. Ini yang mengikuti ajaran herman. Kamilah yang mengikuti ajaran herman. Kalian tidak mengikuti ajaran herman. Kalian telah mengingkari ajaran herman.

Lama-kelamaan, boleh jadi orang menjadi agak lupa dengan apa detail A sampai Z rahasia hidup baik menurut herman itu, tapi dengan santai orang mengaku; saya mengikuti ajaran herman. Dan dengan santai juga orang menuduh orang lain; dia tidak mengikuti ajaran herman.

Orang-orang mulai terpukau dengan label; Ajaran Herman. Semula cukup ajaran herman, lalu belakangan harus dieja dengan Ajaran Herman.

Seterusnya, Orang mulai mau bersitegang urat leher untuk membela Ajaran Herman. Dan mulai tidak malu-malu lagi mencaci maki mereka [orang lain] hanya karena mereka [orang lain] tidak mengakui dan mengikuti Ajaran Herman.

Maaf, hanya berkhayal. Boleh, khan? Hehehe. Peace.

:) :)

BERAGAMA

Friday, January 1st, 2010

Aku menemukan sebuah catatan lama. Sebuah surat untuk seorang sahabat. Mungkin hanya sebuah draft, artinya, surat itu mungkin tidak jadi dikirimkan. Aku lupa.

Ini tentang sikapku terhadap agama. Dan tentang bagaimana aku beragama.

Baiklah aku kutipkan saja.

Jakarta, Wednesday, Jun 27, 2007
Friend, tahu bagaimana aku memikirkan agama? Biarlah nanti kita bicarakan.

Sekarang aku ingin cerita tentang makanan aja dulu. Yang ringan-ringan. Tentang kesukaanku akan makanan. Dan tentu saja, soto; dan tahukah kamu Friend, kalau di seantero Indonesia ini, soto paling enak menurutku adalah soto buatan ibuku? Tentu saja juga, goreng telor; dan tahukah kamu Friend, kalau setua ini, goreng telor paling enak yang pernah aku makan adalah goreng telor buatan ibuku?

Atau, mungkinkah kamu juga pernah merasakan kalau minum kopi paling enak menurutmu adalah minum kopi seduhan istrimu, di pagi hari, tepat sesaat setelah kamu bangun tidur?

Pernah memikirkan fenomena ini, Friend?

Kalau menurutku nih, Friend; ini adalah masalah Yang Pertama dan Kebiasaan. Yang Pertama akan selalu menjadi patok Referensi. Yang Pertama akan selalu menjadi alat ukur bagi yang sesudahnya. Dan, ditambah dengan Kebiasaan, maka Yang Pertama akan menjadi Yang Terbaik.

Itulah yang terjadi dengan Soto dan Goreng Telor, bagiku; dan mungkin juga dengan Minum Kopi bagi orang lain.
***

Aih, jangan-jangan Agama sama saja seperti itu?
***

Friend, sejak usia SMP aku sudah terbiasa dengan Safinah-Sullam-Bidayah; rangkaian kitab paling dasar dan sederhana dalam Fiqh, Kalam dan Tasawuf. Belakangan, di usia SMA hingga tahun-tahun pertama Perguruan Tinggi, kajian Fiqhnya sempat aku perdalam dengan Fathul Qari, Fathul Muin dan Fathul Bari. Kalam dengan Tahafut al Falasifah. Dan sedikit-sedikit, Tasawuf dengan Al Hikam dan Ihya Ulumuddin. Tentu saja, Friend, tidak ketinggalan; Kitab semacam Riyadhus Salihin, Bulughul Maram, maupun Sahih Bukhari – Muslim. Tafsir Favorit adalah Fi Dzilalil Qur’an dan Al Azhar, disamping yang paling standard AL Jalalein dan Ibnu Katsir.

Belajar juga ilmu Nahwu – Sharaf, juga Balaghah dan mantiq; tapi, yah, nol besar. Pernah nyoba juga belajar Usul FIqh dan Musthalah Hadits. Minus tebal.

Apa IQ-ku jongkok ya? … Mungkin, tapi kiraku ga parah-parah amat … hehehe …

Tapi, apa aku tahu cukup banyak tentang Islam? Sehingga bisa memandang Islam secara relative menyeluruh? Sehingga bisa tahu dimana jurang dan tanjakannya? Sehingga bisa tahu dimana tikungan-tikungannya?

Tidak Friend, ku kira tidak. Kalau saja pemahamanku tentang Islam bisa sekaliber Nurcholis Madjid atau Gus Dur, atau Kyai dan Para Guru itu; mungkin aku akan mengatakan aku cukup tahu tentang Islam. Tapi, kenyataannya; tidak demikian, Friend.

Dan, aih; setelah semua waktu yang aku habiskan untuk itu, aku belum juga tahu cukup banyak?

Aih, apalagi dengan, maaf, orang-orang yang tidak seberuntung aku hidup di lingkungan pesantren, sehingga bahkan mungkin saja tidak kenal sekedar dengan nama kitab-kitab yang aku sebutkan itu? Lalu bagaimana dapat mengenal Islam dengan cukup komprehensif?
***

Maksudku adalah begini, Friend; kalau kita tidak dapat mengenal ajaran Islam secara menyeluruh, bagaimana kita bisa begitu yakin akan Kebenaran Islam? Kalau kita tidak pernah secuilpun belajar tentang segala macam agama yang ada di dunia ini; Jew, Christian, Buddhism, Hindu, Tao, Kong Hu Cu, Zen, Shinto, etc; bagaimana kita begitu nyaman sekedar mengatakan agama-agama itu salah dan sesat?

Friend, secara intelektual; aku hanya merasa tidak nyaman.
***

Lalu, bagaimana aku beragama? Yah, mungkin seperti aku mengenal soto dan goreng telor; karena itulah yang Pertama kali aku kenal, dan yang dengannya aku terbiasa.

Hehehe.
***

Dan kalau hanya secara itu aku beragama, dan kebanyakan kita adalah demikian; bagaimana aku dapat begitu gagah menyalah-nyalahkan orang lain, lalu mengklaim sebagai orang paling beruntung telah berada dalam terang Islam? Sekedar beruntung?

Dan kalau aku merasa bahwa IQ-ku tidaklah jongkok-jongkok amat, tapi masih sebodoh itu caranya dalam beragama, maka mengapa aku musti tidak dapat memahami kalau orang lainpun begitu juga caranya dalam beragama? Sekedar mengikuti apa yang dikatakan oleh leluhurnya? Oleh lingkungannya?

Maka baiklah, kita tidak usah saling menghakimi keyakinan orang lain. Maka baiklah, kita masing-masing menekuni saja apa yang kita yakini.

Tapi, untuk mengetahui bahwa kita adalah semuanya sama-sama manusia, adalah tidak sulit, dan tidak perlu menggunakan ajaran-ajaran, bukan?

Cintailah sesamamu …

Apa sulitnya?

[Archive, Jakarta, Tuesday, Dec 10, 2009]

ANALISA SARINGAN

Thursday, December 31st, 2009

[Maaf, pak, saya mencuri ide bapak untuk keperluan ini]

1.
Siang itu di ancol. Untuk menghilangkan pikiran suntuk, aku bersantai di ancol. Dengan seorang teman.

“Kamu itu tidak tampan, cong. Kamu tidak tinggi atletis. Tidak putih mulus. Bahkan tidak juga kaya.” Temanku nyerocos. Dan aku bengong.

“Begini, aku perjelas.” Lanjutnya. “Kamu itu jelek. Kamu itu kurus kerempeng. Hitam. Dan lebih dari itu kamu juga miskin. Lalu apa yang mau kamu andalkan? Apa yang kamu mau sombongkan?”

Aku mulai mengerti arah omongannya. Tapi aku masih juga bengong. Karena tiba-tiba, gitu.

“Setiap kamu menyukai seorang gadis, selalu dia yang terbaik di lingkungannya. Di angkatannya. Dulu E. Lalu R. Lalu sekarang entah siapa lagi. Apa yang kamu cari?”

Siang itu di ancol. Pikiranku tambah suntuk.

Huh.

2.
Untuk kebutuhanmu akan seorang PRT atau mungkin Baby Sitter, tentu saja engkau tidak butuh seseorang dengan kemampuan memahami Neraca, Laba/Rugi, Cash flow, Price to Book Value, Price Earning Ratio, Stochastic Oscillator atau Trendlines.

Untuk kebutuhan tuan akan seorang tukang kebun, tuan tentu saja tidak butuh seseorang yang hebat dalam Fisika Kuantum, LAN atau Network, A to Z about Corporation, Psikologi Industri, Management Portofolio, Stoic Philosophy, atau semacamnya.

Yah, engkau tahulah seperti apa PRT, Baby Sitter dan tukang kebun.

3.
Adalah wajar, bila seorang pimpinan proyek; menginginkan team yang terbaik untuk proyeknya. The Best Team boleh dibilang adalah jaminan kesuksesan.

Tapi, apa the Best team itu? Mengumpulkan semua orang dengan level competency seorang manajer dalam team proyek untuk berbagai posisi, yang pastinya tidak selalu untuk posisi manajer; tentu saja tidak mungkin. Kumpulan orang-orang “terbaik” itu akan justru merusak proyek. Mengumpulkan jenius-jenius visioner, pemikir-pemikir futuristic; juga tidak akan membuat proyek jalan. Proyek akan bergelimang ide-ide cemerlang, tapi belum tentu ada yang becus mengeksekusinya. Mengumpulkan pekerja-pekerja keras saja, tapi kurang dalam pemikiran, hanya akan membuat proyek penuh dengan orang-orang yang maen seruduk saja.

Sebuah proyek membutuhkan orang-orang dengan kemampuan yang sesuai; untuk beragam jenis kemampuan, dan beragam level kemampuan.

Aku kira sebuah korporasi tidak akan beda juga.

4.
Ini mengingatkan aku akan Sieve Analysis dalam Civil Engineering. Analisa Saringan. Ini dibutuhkan jika engkau akan membuat Mix Design Beton dan /atau Job Mix Formula Asphalt Beton. Intinya, untuk keperluan membuat beton dan atau asphalt beton itu, engkau membutuhkan campuran aggregate. Mulai dari aggregate kasar sampai aggregate halus. Kita memiliki alat yang disebut dengan saringan atau ayakan. Mulai dari saringan atau ayakan dengan lubang-lubang dengan diameter yang besar, mungkin 2 sampai 3 cm, untuk menahan aggregate kasar, sampai yang berlubang sangat halus, untuk menahan aggregate halus hingga abu batu. Ada banyak ukuran saringan atau ayakan. Mungkin belasan. Dan untuk kebutuhan beton dan asphalt itu; setiap ukuran saringan atau ayakan dibutuhkan sejumlah prosentase tertentu aggregate yang tertahan disitu. Maksudnya, untuk menciptakan beton dan asphalt beton dengan kualitas yang baik, dibutuhkan aggregate dari beragam ukuran dengan suatu jumlah tertentu yang sesuai. Agregat kasar, ukuran 2~3 cm ada sebanyak x persen. Ukuran aggregate 1~2 cm ada sebanyak y persen. Ukuran 0.5~1 cm ada sebanyak z persen. Dan seterusnya.

Ukuran tertentu dengan jumlah tertentu yang sesuai ini kita kenal dengan Well-Graded. Sementara, terlalu banyak ukuran2~3 cm, misalnya, disamping itu kurang dan bahkan tidak ada ukuran yang lain; kita sebut Pour-Graded. Aggregat terlalu seragam, dan ini jelek; tidak dapat menciptakan beton dan atau asphalt yang kokoh.

Dan engkau yang dari Civil Engineering tahu belaka hal ini. Dan biarlah kuberitahu; kayaknya, inipun tidak hanya cocok untuk beton dan asphalt beton, tapi juga cocok untuk proyek ataupun korporasi.

Dan kita ini adalah agregat-agregat itu.

5.
Temanku itu memang kejam dalam omongannya. Tapi, apa boleh buat, aku juga memang naïf.

Hehehe.

:)

[Archive, Jakarta, Tuesday, Jun 30, 2009]

NAIK BUS

Wednesday, December 23rd, 2009

1.
Kalo menurutku, nih; meskipun ini murni urusan bisnis, tetap saja tidak bisa engkau hanya membuta memainkan hanya prinsip-prinsip bisnis, seperti efisiensi dan efektivitas. Sehingga, based on prinsip ini lalu engkau merasa berhak hanya untuk mengambil orang-orang yang terbaik untuk bus-mu, dan menurunkan yang kurang baik. Orang yang sudah terlanjur berada di bus-mu. Apalagi kalo engkau lalu menurunkan dia di tengah jalan. Ditengah-tengah daerah country yang kosong. Daerah Padang belantara.

Ada prinsip-prinsip moral, bukan? Aku tahu aku harus bersikap sopan, karena sikap sopan justru adalah sebagian dari prinsip moral itu. Tapi, mengatakan kebenaran adalah prinsip moral yang lain juga, bukan?

Prinsip moral yang kiranya harus engkau pertimbangkan dalam urusan bisnismu, beberapa diantaranya adalah prinsip kesetiaan, tolong menolong, balas budi, keadilan, membela yang lemah, tenggang rasa dan semacamnya.

Selalu bersikap pragmatis, kiraku, bukan cara terbaik untuk hidup.

2.
Belum lagi, hal inipun dapat dikatakan tidak benar juga meski hanya based on prinsip-prinsip praktis. Sebuah proyek hanyalah sebuah entitas kecil, dan ia adalah kepanjangan tangan dari corporate secara keseluruhan. Maka, kalau engkau berpikir semata-mata untuk keuntungan proyekmu, tanpa memikirkan kepentingan menyeluruh dan jangka panjang corporate, hal itu bisa tidak benar juga.

Engkau memilih hanya yang terbaik untuk proyekmu; itu bagus. Itu akan menjamin kesuksesan proyekmu. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang kurang baik, yang juga adalah fakta, sudah menjadi bagian dari keluarga besar corporate ini? Tidakkah corporate harus mempertimbangkan semua ini?

Meskipun engkau memiliki otoritas penuh untuk memilih orang-orangmu untuk proyekmu, kiraku, engkau tidak dapat terus membuta memainkan sikap egoistik dengan melupakan otoritas Manajer Devisi/Corporate dalam tanggungjawab mereka untuk kepentingan menyeluruh dan jangka panjang corporate.

Menurutku sih demikian.

Ntahlah.

:)

[Archive, Jakarta, Friday, June 26, 2009]

LETTING GO

Monday, November 30th, 2009

Yang ini pun akan berlalu juga. Yang ini pun akan berlalu juga. Dan Yang ini pun akan berlalu juga. Maka, terimalah setiap keadaan, seperti apa pun itu, apa adanya. Terimalah setiap orang, seperti apapun dia, apa adanya. Terimalah dirimu sendiri, apa adanya.

Di dalam setiap kegembiraan meluap yang engkau nikmati, pikirkan bahwa hal itu pun akan berlalu. Dan bersiaplah untuk setiap kemungkinan kesedihan yang akan hadir.

Dan di dalam setiap kesedihan menyesakkan dada yang engkau tanggung, pikirkan pula bahwa hal itu pun akan ada gilirannya untuk berlalu. Dan tersenyumlah untuk setiap kemungkinan kegembiraan yang akan segera engkau songsong.

[Archive, Jakarta, Tuesday, June 23, 2009]