<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>justsomenotes.com</title>
	<link>http://justsomenotes.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 24 May 2010 14:06:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>IMAN DAN AMAL</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=250</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=250#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 07:46:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[1.
Suatu ketika Bai Juyi pergi ke guru Daolin dari Dinasti Tang untuk mengetahui Zen lebih jauh. “Apa yang perlu dipraktekkan setiap hari untuk menjadi selaras dengan Kebenaran?” tanyanya.
“Jangan berbuat jahat, tambahkan kebajikan sebanyak mungkin.” Jawab sang guru.
“Ah, kalau Cuma itu, anak kecil tujuh tahun juga tahu.” Bantah Bai Juyi tidak puas.
“Benar. Benar, anak kecil tujuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.</p>
<p>Suatu ketika Bai Juyi pergi ke guru Daolin dari Dinasti Tang untuk mengetahui Zen lebih jauh. “Apa yang perlu dipraktekkan setiap hari untuk menjadi selaras dengan Kebenaran?” tanyanya.</p>
<p>“Jangan berbuat jahat, tambahkan kebajikan sebanyak mungkin.” Jawab sang guru.</p>
<p>“Ah, kalau Cuma itu, anak kecil tujuh tahun juga tahu.” Bantah Bai Juyi tidak puas.</p>
<p>“Benar. Benar, anak kecil tujuh tahun pun tahu, tapi bahkan orang tua delapan puluh tahun pun sukar melaksanakannya.” Jawab sang guru.</p>
<p>[Kutipan dari buku &#8220;Zen Membebaskan Pikiran&#8221;, hal. 107]</p>
<p>2.</p>
<p>Kebenaran adalah jelas. Dan kebatilan pun adalah jelas. Tapi, sekedar mengenali Kebenaran dan Kebatilan, tentu saja tidak cukup. Dalam bahasa Islam, Kebenaran ini disebut Jalan. Shirat. Minhaj. Syariat. Thariqat. The Way of Life. Dan tentu saja, jalan ini bukan hanya untuk dikenali, melainkan untuk ditempuh. Ia lebih ke seumpama peta. Agar sampai, kita musti melangkah. Menempuh laku. Dengan berpedoman pada peta tersebut.</p>
<p>Secara singkat, Islam mengajarkan dua laku besar; ber-Iman dan ber-Amal Sholeh. Ber-Iman, adalah orientasi Ketuhanannya. Dan ber-Amal sholeh, adalah orientasi Kemanusiaannya. Ber-Iman tanpa ber-Amal Sholeh, adalah kebohongan. Pendustaan agama. QS 107:1-7. Sedangkan ber-Amal Sholeh tanpa ber-Iman, dihadapan Tuhan amal itu laksana fatamorgana. QS 24:39.</p>
<p>Tantangan terbesar untuk ber-Iman dan ber-Amal sholeh ini adalah hawa nafsu. Ialah yang selalu mendorong kita untuk melalaikan diri; menjauhi kebenaran, dan mendekati kebatilan. Maka, pekerjaan-rumah utama kita adalah selalu belajar mengenali diri, dan sekaligus menguatkan diri untuk selalu mengendalikan diri.</p>
<p>3.</p>
<p>Saya pernah bertanya pada uskup Jenewa tentang apa yang harus dilakukan orang untuk mencapai kesempurnaan.</p>
<p>“Kamu harus mencintai Tuhan dengan segenap hatimu,” jawabnya, “dan tetanggamu seperti dirimu sendiri.”</p>
<p>“Saya tidak bertanya dimana letak kesempurnaan itu,” saya membalasnya, “tetapi bagaimana mencapainya.”</p>
<p>“Kedermawanan,” jawabnya lagi, “itu adalah cara dan tujuan, satu-satunya cara untuk mencapai kesempurnaan yang bagaimanapun adalah kedermawanan itu sendiri. ….Seperti halnya jiwa adalah kehidupan bagi tubuh, maka kedermawanan adalah kehidupan bagi jiwa.”</p>
<p>“Saya tahu itu semua,” kataku. “Tetapi saya ingin mengetahui bagaimana orang akan mencintai Tuhan dengan segenap hatinya dan tetangga seperti dirinya sendiri.”</p>
<p>Tetapi ia menjawab lagi, “kita harus mencintai Tuhan dengan segenap hati kita, dan tetangga kita seperti diri kita.”</p>
<p>“Saya tidak lebih dari diriku sendiri ini,” jawabku. “Katakan padaku bagaimana memperoleh cinta yang semacam itu.”</p>
<p>“Jalan yang terbaik, jalan yang terpendek dan termudah mencintai Tuhan dengan sepenuh hati adalah mencintai Dia sama sekali dan dengan segenap hati!”</p>
<p>Ia kemudian tidak memberi jawaban lagi.</p>
<p>Namun, pada akhirnya, uskup itu berkata, “Ada banyak orang di sampingku yang menginginkan aku mengatakan pada mereka tentang metoda, sistem, dan cara-cara rahasia menjadi sempurna, dan aku hanya dapat mengatakan kepada mereka bahwa satu-satunya rahasia adalah cinta pada Tuhan dengan sepenuh hati, dan satu-satunya cara untuk mencapai cinta itu adalah dengan mencintai. Kamu belajar berbicara dengan berbicara, belajar mengkaji dengan cara mengkaji, belajar lari dengan cara berlari, belajar kerja dengan cara bekerja; begitu pulalah kamu belajar mencintai Tuhan dan manusia dengan jalan mencintai. Mereka semua yang menganggap dapat belajar dengan cara lain, sama dengan menipu diri sendiri. Jika kamu ingin mencintai Tuhan, teruslah mencintai Dia. Dimulai dengan sekadar sebagai seorang cantrik, kekuatan cinta akan membawamu menjadi seorang guru dalam seni. Mereka yang mengalami kemajuan akan terus-menerus menekan, tidak pernah mempercayai dirinya telah mencapai tujuan; karena kedermawanan harus terus-menerus tumbuh hingga kita menarik nafas yang terakhir.”</p>
<p>[Kutipan dari Filsafat Perennial, Aldous Huxley, hal. 136-137]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=250</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEBENARAN VS KEBATILAN</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=249</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=249#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 09:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Dakwah, dalam islam, atau missi, dalam kristen, atau entah istilah apalagi dalam agama lain, pada dasarnya adalah sama. Sekedar sebuah pengajaran. Kita mengenali sesuatu sebagai Kebenaran, atau sebagai suatu Jalan Keselamatan, dan karena cinta kita yang mendalam terhadap sesama, kita ingin mengabarkan dan mengajak sesama itu ke Kebenaran atau Jalan yang sama.
Dan lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Dakwah, dalam islam, atau missi, dalam kristen, atau entah istilah apalagi dalam agama lain, pada dasarnya adalah sama. Sekedar sebuah pengajaran. Kita mengenali sesuatu sebagai Kebenaran, atau sebagai suatu Jalan Keselamatan, dan karena cinta kita yang mendalam terhadap sesama, kita ingin mengabarkan dan mengajak sesama itu ke Kebenaran atau Jalan yang sama.</p>
<p>Dan lebih dari itu, ini pun merupakan salah satu ajaran atau anjuran atau perintah dari agama-agama itu sendiri. Untuk menyebarkannya ke seluruh dunia. Untuk mengabarkannya ke seluruh penjuru. Sebagai Kabar Gembira.</p>
<p>Dan saya kira, keinginan untuk menyebarkan dan mengabarkan diri ini sangatlah alamiah. Sehingga, bukan saja agama yang memiliki keinginan demikian. Melainkan, segala jenis sistem nilai, atau segala jenis konsep. Begitu ia menyadari dirinya sebagai kebenaran, tentu ia ingin agar kebenaran ini dapat dikenali oleh seluruh dunia. Agar seluruh dunia dapat memperoleh manfaat darinya.</p>
<p>Atau, dapat dikatakan secara terbalik, segera sesudah sebuah kebenaran muncul, maka manusia seluruh dunia akan mengejar untuk mengenali dan meneladaninya. Ini tentu berakar dari fakta bahwa setiap manusia, di kedalaman dirinya, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, selalu menghendaki kebenaran.</p>
<p>Dalam perpektif inilah Islam berdiri, saya kira. Tanpa ketakutan. Tanpa kekhawatiran. Bahwa, Kebenaran adalah Jelas. Dan Kebatilan pun adalah jelas. [QS 2:256]. Silahkan orang yang punya akal budi untuk memikirkannya. Untuk memilihnya. Atau untuk meninggalkannya. [QS 18:29]. Dan segala konsekwensinya pun jelas. Semua kebenaran itu tidak lain untuk kebaikan dirimu sendiri. Dan segala akibat kebatilan pun adalah untuk dirimu sendiri. [QS 17:15].</p>
<p>Para pendakwah Islam, oleh karenanya, selalu [dapat] mengalir dengan santun dan ramah. Bahkan, tidak pernah [perlu] merasa sedih dan marah hanya karena selalu ada orang-orang yang tidak dapat menerimanya. Yang mengingkarinya. Yang menghinanya. Dan yang bahkan mengajarkan hal-hal lain sebagai kebenaran.</p>
<p>Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya kita berasal dariNya, dan akan selalu kembali kepadaNya. Aspek fisik semua manusia, akan selalu kembali ke asalnya, tanah. Tapi, aspek ruhaniahnya, akan selalu kembali kepadaNya, al Haq, Kebenaran. Dari sini kita yakin, bahwa asalkan manusia dapat selalu menyempatkan diri melihat ke dalam dirinya, menerobos ke balik darah, daging dan tulangnya, menyibak tirai hawa-nafsunya, dan menjenguk ke kedalaman hati nuraninya, ia pada akhirnya akan selalu dapat mengenali Kebenaran.</p>
<p>Maka, bahkan terhadap pengaku-pengaku nabi sesudah Muhammad, pendakwah Islam [seharusnya] selalu menghadapinya dengan tenang, karena adalah jelas bahwa tidak ada nabi sesudah Muhammad. Dan terhadap ancaman konsep dan sistem nilai seperti apapun, Islam pun dengan sangat percaya diri telah mengatakan, kalau engkau dapat membuat yang semisal Al Qur’an, silahkan.</p>
<p>Pendakwah Islam [seharusnya] tidak lebih dari seorang pemberi peringatan. Pembawa Kabar Gembira. Kalau ajakannya tidak didengarkan orang, di dalam hati dia tinggal berbisik; “Ya Allah, saksikanlah. Aku telah menyampaikan.”</p>
<p>Kebenaran adalah jelas. Kebatilan pun adalah jelas.</p>
<p>Mari kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.</p>
<p>Dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.</p>
<p>Hehehe. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=249</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PERBEDAAN</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=248</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=248#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 13:09:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[1.
Justsomenotes.Jakarta. Tahun itu, 1993, dengan jubah rahibnya yang berwarna kuning kunir dan merah marun, Dalai Lama menyeruak di Arizona State University, di sebuah stadion basket, dan memulai rangkaian ceramah umumnya selama sepekan di Arizona, dengan perkenalan yang sangat memikat.
“Saya kira, ini pertama kalinya saya berjumpa dengan sebagian besar anda. Tetapi bagi saya, entah kawan lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.</p>
<p>Justsomenotes.Jakarta. Tahun itu, 1993, dengan jubah rahibnya yang berwarna kuning kunir dan merah marun, Dalai Lama menyeruak di Arizona State University, di sebuah stadion basket, dan memulai rangkaian ceramah umumnya selama sepekan di Arizona, dengan perkenalan yang sangat memikat.</p>
<p>“Saya kira, ini pertama kalinya saya berjumpa dengan sebagian besar anda. Tetapi bagi saya, entah kawan lama atau kawan baru, tak banyak bedanya karena saya selalu percaya bahwa kita sama, kita semua sama-sama manusia. Tentu saja, mungkin ada perbedaan latar belakang budaya atau gaya hidup, mungkin ada perbedaan keyakinan, atau mungkin ada perbedaan warna kulit. Tetapi kita sama-sama manusia, yang terdiri atas tubuh dan pikiran. Struktur fisik kita sama, dan pikiran serta emosi alami kita juga sama. Dimana pun saya bertemu dengan orang lain, saya selalu punya perasaan bahwa saya sedang berhadapan dengan seorang manusia yang sama seperti diri saya sendiri. Saya merasa jauh lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain pada tataran seperti itu. Andai kata saya menekankan karakteristik khusus, misalnya bahwa saya orang Tibet atau saya orang Buddhis, perbedaan akan tampak. Tetapi hal-hal itu bersifat sekunder. Kalau kita bisa menyisihkan perbedaan-perbedaan itu, saya kira kita dapat mudah berkomunikasi, bertukar gagasan, dan berbagi pengalaman.”</p>
<p>2.</p>
<p>Adalah rasa takut, atau kekhawatiran, entah terhadap apa, yang sering membuat kita selalu menjaga jarak terhadap perbedaan. Menjadikannya sebagai sesuatu yang asing. Sesuatu yang kita pandang dengan rasa curiga. Bahkan, sedemikian curiganya kita terhadap perbedaan-perbedaan, sampai-sampai kita lalu mengabaikan kesamaan esensial kita yang jelas, yaitu sama-sama manusia.</p>
<p>Sementara itu, menurut Islam, sejauh yang saya pahami dari Al Qur’an, pada dasarnya semua manusia adalah bersaudara, keturunan Bapak Adam dan Ibu Hawa. Sedangkan perbedaan-perbedaan sekunder ini sebenarnya memang dikehendaki oleh Allah [QS. 49:13]. Tujuannya supaya kita justru saling belajar. Saling melengkapi. Saling memanfaatkan. Saling membantu. Karena kita belajar dari perbedaan-perbedaan. Kita mengokohkan diri juga melalui perbedaan-perbedaan. Kita memanfaatkan perbedaan-perbedaan. Kita membantu dengan perbedaan-perbedaan.</p>
<p>Melalui tamparan, kita tahu nikmatnya belaian. Melalui rasa sakit, kita menghargai anugrah kesehatan. Karena dia timpang kakinya, maka engkau menyiapkan penyangga. Karena petani-petanilah, kita pegawai-pegawai kantoran ini mengetahui beras dan makan nasi. Karena anak yatim dan orang-orang miskinlah kita berkesempatan menyucikan diri dengan kedermawanan.</p>
<p>Itulah makanya, Nabi Muhammad Saw tidak pernah khawatir untuk menganjurkan ummatnya belajar hingga ke Cina. Kabarnya Nabi juga ada mengirimkan sahabat-sahabatnya untuk pergi ke Romawi, mempelajari kedokteran. Dan dari Sayyidina Ali Ra terkenal ucapan: undzur ma qala, wala tandzur man qala, lihat apa yang dia katakan, dan jangan lihat siapa yang mengatakan.</p>
<p>Justru kitalah yang phobia, bahkan hingga di abad modern ini. Dan akibat kebiasaan untuk membiarkan ketakutan, kekhawatiran dan kecurigaan mencengkeram batin kita seperti inilah, yang menyebabkan kita gagal menghayati ajaran Islam ini, dan oleh karenanya, gagal pula mengambil manfaatnya.</p>
<p>3.</p>
<p>Tentu saja, perbedaan yang paling menakutkan kita adalah perbedaan pemikiran dan/atau keyakinan. Salah satu penyebabnya menurut saya adalah karena kegagalan kita untuk mengakui bahwa sebuah pemikiran dan/atau keyakinan, tidak pernah monolitik. Lebih tepatnya, sebuah sistem nilai tidak pernah monolitik. Kita selalu mengira, sekali suatu sistem nilai memiliki satu point pemikiran salah atau suatu konsep salah, kita lalu mengira semuanya salah. Sebaliknya, kita dengan gegabah mengira, sekali kita cocok dengan suatu sistem nilai tertentu, lalu kita mengira, keseluruhan nilai di dalamnya adalah benar mutlak.</p>
<p>Dengan ini kita lalu kehilangan kesempatan untuk mengambil manfaat dari pencapaian-pencapaian sistem nilai lain. Dan lebih dari itu, kita gagal untuk dengan lapang dada mengakui dan memberi kesempatan bagi sistem nilai lain untuk terus hidup dan berkembang. Proses alamiah dialektikal Tesis - Anti Tesis - Sintesis, sebagai benih penting peradaban-peradaban besar; tidak tumbuh.</p>
<p>Kita phobia. Paranoid. Resistant.</p>
<p>Hehehe. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=248</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DAKWAH</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=247</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=247#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 07:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[1.
Justsomenotes.Jakarta. Ketika aku lahir, maka di hadapanku sudah ada berjejer-jejer agama; Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Shinto, Tao, Khong Hu Cu, dan masih banyak lagi. Semuanya sudah lengkap, mulai dari organisasinya, perangkat system nilainya, pembawanya dan sekaligus pendukung-pendukungnya. Sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.
Karena aku tidak membawa apa-apa dari dalam rahim, tidak ada pesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.</p>
<p>Justsomenotes.Jakarta. Ketika aku lahir, maka di hadapanku sudah ada berjejer-jejer agama; Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Shinto, Tao, Khong Hu Cu, dan masih banyak lagi. Semuanya sudah lengkap, mulai dari organisasinya, perangkat system nilainya, pembawanya dan sekaligus pendukung-pendukungnya. Sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.</p>
<p>Karena aku tidak membawa apa-apa dari dalam rahim, tidak ada pesan apapun yang dapat aku ingat, kalaupun sebelumnya ada pesan; maka, perihal agama ini sepenuhnya merupakan pilihan bagiku. Tentu saja, adalah sangat alamiah kalau aku akan memilih yang paling menarik bagi akal-budiku. Atau, bahkan mungkin tidak memilih satupun, kalau memang tidak ada yang menarik bagi akal-budiku.</p>
<p>Aku kebetulan lebih tertarik kepada Islam, dan oleh karenanya aku lalu memilih Islam sebagai agamaku. Engkau mungkin lebih tertarik kepada Kristen, dan engkaupun memilih Kristen sabagai agamamu. Dia mungkin malah memilih Hindu. Dan mereka juga mungkin memilih Buddha atau Yahudi atau Tao atau Khong Hu Cu atau Shinto. Dan seterusnya.</p>
<p>Engkau, dan dia, dan mereka; tentunya tidak berhak untuk memaksakan pilihan kalian untuk menjadi pilihanku, khan? Emang aku apa kalian maka kalian hendak memaksakan kehendak kalian untuk aku. Kita sama, man. Sama-sama manusia. Tidak lebih tidak kurang.</p>
<p>Hehehehe.</p>
<p>2.</p>
<p>Karena aku memilih Islam, maka aku tahu bahwa tuhan pencipta alam semesta ini adalah Allah Swt. Dan bahwa nabi pembawa risalah Islam ini adalah Muhammad Saw. Dan tahu pula bahwa ada nabi-nabi lain, seperti Adam As dengan gelar bapak umat manusia, Ibrahim As dengan gelar Kekasih Allah, Musa As dengan gelar Kalimah Allah, Isa As dengan gelar Ruh Allah, dan seterusnya.</p>
<p>Tapi, eits, ada orang lain memilih lain, kawan. Ada orang yang lebih memilih Kristen. Dan sesuai dengan Kitab-Kitab mereka, maka mereka tahu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Dan karena kebetulan ke-Kristen-an ini sudah ada jauh sebelum Islam, maka tentu saja ke-Kristen-an tidak mengenal Muhammad Saw yang datang belakangan. Tidak seperti Islam, yang karena memang datang belakangan, masih mengenal Yesus Kristus, meskipun dengan pengenalan yang berbeda, yaitu sebagai Isa As, Nabi, Utusan Tuhan.</p>
<p>Dan demikian juga dengan agama-agama yang lain; memiliki pengajaran yang berbeda tentang tuhan, dan tentang segalanya.</p>
<p>3.</p>
<p>Tentang Tuhan yang mana yang benar; aih, bagaimana memastikannya, kawan? Pencipta alam semesta ini bukanlah sejenis tetangga sebelah rumah pencipta boneka. Sedangkan untuk memastikan apa benar para utusan Tuhan itu benar-benar adalah utusan Tuhan, kitapun hanya mengandalkan pembacaan literatur-literatur lama. Tidak hanya Kitab Suci. Tapi juga reportase-reportase. Mau apalagi, memang para utusan Tuhan itu sudah berlalu ribuan tahun yang lalu. Kita sudah impossible dapat mengenalinya langsung.</p>
<p>Maka, kalau engkau sangat meyakini kalau agama yang engkau anut adalah paling benar, dan engkau sangat ingin bahwa orang lainpun berminat dengan agama engkau; apa yang patut engkau lakukan? Engkau yakin, bahwa yang akan selamat hanya engkau, dan karena cinta amat mendalam kepada saudara-saudaramu sesama umat manusia, engkau ingin agar mereka pun dapat diselamatkan juga; maka apa yang akan engkau lakukan?</p>
<p>Menurutku, ini seumpama engkau berjualan makanan. Engkau memiliki lapak di sebuah food court. Yang dapat engkau lakukan hanyalah membuat sedemikian rupa lapak engkau sangat menarik, sehingga orang-orang berkenan mampir ke lapak engkau. Setelah mereka berkenan mampir dapatlah engkau berharap mereka mau mempelajarinya pelan-pelan. Dan mungkin menjadi seperti engkau.</p>
<p>Tapi, tidak mungkin, khan, engkau memaksa orang-orang dengan kekerasan untuk mampir makan di lapak engkau?</p>
<p>Hari gineeee pemaksaan dengan kekerasaan? Hehehe. Itu artinya, engkau bahkan tidak memahami diri sendiri, kawan.</p>
<p>Please, deh. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=247</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BERAGAMA</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=246</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=246#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 08:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[1.
Justsomenotes.Jakarta. Lahir di era 60-an, di sebuah desa sangat terpencil di Madura, dan bahkan besar juga di desa itu, maka agama apalagi yang mungkin saya anut? Satu-satunya buku, selain pelajaran sekolah, yang saya kenal hingga saya lulus SD hanyalah Al Qur’an. Tidak ada toko buku dalam radius 30 km, sehingga mungkin saya dapat mengenal buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.</p>
<p>Justsomenotes.Jakarta. Lahir di era 60-an, di sebuah desa sangat terpencil di Madura, dan bahkan besar juga di desa itu, maka agama apalagi yang mungkin saya anut? Satu-satunya buku, selain pelajaran sekolah, yang saya kenal hingga saya lulus SD hanyalah Al Qur’an. Tidak ada toko buku dalam radius 30 km, sehingga mungkin saya dapat mengenal buku lain selain Al Qur’an. Tidak ada orang dengan agama lain di sekeliling saya, sehingga mungkin saya dapat memiliki referensi lain.</p>
<p>Maka, inilah; saya beragama Islam.</p>
<p>Memasuki usia SMP dan SMA saya memang sudah pindah ke sebuah kota kabupaten. Saya memang mulai melihat ada sedikit perbedaan. Saya mulai melihat sebuah gereja. Dan juga sebuah kelenteng. Tapi, tentu saja dengan tatapan mata asing. Saya takut. Entah ada apa di dalamnya.</p>
<p>Ada satu toko buku kecil di kota itu. Tapi, tentu saja isinya hanya buku-buku agama Islam, selain buku-buku pelajaran sekolah. Seusia itu, tentu saja saya belum pernah melihat apa yang namanya Al Kitab atau Bible, the Dhammapada, the Bagavad Gita, the Analect, Tao The Ching, dan sebagainya.</p>
<p>Maka, inilah; saya beragama Islam.</p>
<p>Dan saya kira, saya tidak sendirian.</p>
<p>2.</p>
<p>Memasuki perguruan tinggi; itulah pertama kalinya saya ke sebuah kota propinsi. Surabaya. Dan di sanalah saya mulai mengenal toko buku yang di dalamnya berisi lengkap referensi tentang agama-agama lain di dunia ini.</p>
<p>Tapi, aih; begitu banyak. Begitu banyak yang harus saya pelajari. Sedangkan untuk memahami Islam saja, saya mungkin butuh waktu seumur hidup, kalau mengingat keterbatasan intelegensi saya sendiri? Dan ketika saya sedikit-sedikit mencoba membaca-baca juga Kitab-Kitab Suci agama lain; toh, saya akui, saya selalu melihatnya dari kaca-mata ke-Islam-an saya. Kok begini, yah. Bukannya begini. Kok begitu, yah. Bukannya begitu. Dan seterusnya.</p>
<p>Saya akui; saya tidak cukup punya intelegensi untuk dapat bersikap super kritis. Dan terus terang, saya tidak punya cukup kemampuan untuk secara jujur, intelektual dan ilmiah menyatakan agama-agama itu sekedar salah atau benar. Lagi, pula; terus terang, tentang agama sendiri saja saya belum mampu belajar banyak. Ada Alqur’an, Tafsir, Hadits, Musthalah Hadits, Fiqih, Usul Fiqh, Mantiq, Balaghah, Nahwu Saraf, dan berjibun banyak ilmu lain yang bahkan namanya saja saya tidak tahu.</p>
<p>Lalu beginilah saya; saya hanya mengenal Islam, dan saya pun beragama Islam.</p>
<p>Dan saya kira, saya tidak sendirian.</p>
<p>3.</p>
<p>Saya memasuki Islam dengan cara demikian. Engkau pun mungkin memasuki Islam dengan cara demikian. Dia pun mungkin memasuki Kristen dengan cara demikian. Mereka pun mungkin memasuki Hindu atau Buddha atau Shinto atau Tao atau Kong Hu Cu dengan cara demikian.</p>
<p>Sesungguhnya, saya ini sangat lemah, yah. Sangat tidak mampu. Dan mungkin juga engkau. Dan sangat mungkin juga mereka.</p>
<p>Ah, mari berendah hati aja kali, yah.<br />
 <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=246</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TUHAN</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=245</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=245#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 10:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Hingga ribuan tahun sejarah ilmu pengetahuan ini, mungkin bahkan penyelidikan kita atas seekor lalatpun belum juga tuntas. Sudah 20 tahun engkau hidup bersama suami atau istri atau anak-anak engkau; sepertinya engkaupun tidak akan dapat dengan meyakinkan mengaku telah benar-benar mengenalnya luar-dalam. Jadi, masihkah engkau hendak mengaku memiliki pengertian yang meyakinkan tentang Tuhan?
Salah satu Sifat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Hingga ribuan tahun sejarah ilmu pengetahuan ini, mungkin bahkan penyelidikan kita atas seekor lalatpun belum juga tuntas. Sudah 20 tahun engkau hidup bersama suami atau istri atau anak-anak engkau; sepertinya engkaupun tidak akan dapat dengan meyakinkan mengaku telah benar-benar mengenalnya luar-dalam. Jadi, masihkah engkau hendak mengaku memiliki pengertian yang meyakinkan tentang Tuhan?</p>
<p>Salah satu Sifat Tuhan yang diajarkan oleh kalangan ahli kalam, theolog Islam adalah Mukhalafaatu-lil-khaawadits, Dia Berbeda dari Semua Yang Baru. Artinya, Dia berbeda dari semua mahluk. Dan kita tahu, semua yang kita kenali, entah dengan akal atau panca indra atau instrument lain; adalah mahluk. Ciptaan Tuhan. Dan bukan Tuhan. Semacam sebuah pengakuan bahwa Tuhan memang tidak terjangkau.</p>
<p>Sepertinya Jalaluddin Rumi yang mengatakan ini; “No man has seen God and lived”. Dan adalah Guru Sufi Fariduddin Atthar, dalam Musyawarah Burung, yang mengatakan: ”Tiada hati maupun akal budi dapat sampai pada hakekat diriMu, dan tak seorangpun akan mengenal sifat-sifatMu”</p>
<p>Saya ingin mengutipkan beberapa pernyataan serupa yang disampaikan beberapa pihak; Santo Thomas Aquinas: “Setiap gambaran yang kita buat tentang tuhan lebih tidak mirip dari pada mirip denganNya”. Masih dari beliau; ” Puncak pengetahuan manusia mengenai tuhan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa mengenai Tuhan.”</p>
<p>Meister Eckhart ; “Whoever perceives something in God and attaches thereby some name to Him, that is not God. God is … ineffable.” Masih dari Eckhart, dalam The Cloud of Unknowing; “But now you will ask me, ‘ said he, ‘How am I to think of God Himself, and what is He?’ And I cannot answer you except to say ‘I do not know!’ For this question you have brought me into the … Cloud of Unknowing … of God Himself can no man think.”</p>
<p>Maka, aku jadi tidak terlalu heran kalau kita lalu berbeda sebutan dalam menyebut dzatNya. Ada yang menyebutNya Tao, Yahweh, Logos, Alfa, Omega, Bapa, Atman, Khrisna, Buddha, Gusti, Pangeran, Allah, Yang Maha Pedih Siksaannya, Yang Maha Berilmu, dan seterusnya. </p>
<p>Lalu, tidak bisakah kita menerima mereka semua [penyeru Dia, sekalipun dengan seruan yang berbeda-beda] sebagai saudara dalam Jalan Menuju ke HadiratNya?</p>
<p>We are all human being. Dan Confusius mengatakan; semua manusia di empat penjuru angin adalah bersaudara.</p>
<p>Hehehe. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=245</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PIKIRAN</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=244</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=244#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 06:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Aku mencintai gadis itu, dan sempat mengira kalau dia pun mencintaiku. Hubungan kami tampak dekat dan akrab. Tapi ternyata tidak. Dia lebih mencintai orang lain. Maka, kekecewaan dan kecemburuan menghantui malam-malamku. 
Tentu saja aku tidak tahan. Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin perasaanku reda dan tenang. Pikiran tidak selalu mengenang-ngenang dia. Tapi, aih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Aku mencintai gadis itu, dan sempat mengira kalau dia pun mencintaiku. Hubungan kami tampak dekat dan akrab. Tapi ternyata tidak. Dia lebih mencintai orang lain. Maka, kekecewaan dan kecemburuan menghantui malam-malamku. </p>
<p>Tentu saja aku tidak tahan. Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin perasaanku reda dan tenang. Pikiran tidak selalu mengenang-ngenang dia. Tapi, aih, ternyata tidak semudah itu. Ternyata perasaan dan pikiranku tidak juga patuh pada keinginanku. </p>
<p>Bekerja di perusahaan ini aku sudah mencapai belasan tahun. Tapi, capaian posisi dan salary yang aku dapatkan sudah dilampaui oleh teman-teman yang bahkan mungkin baru dua atau tiga tahun di perusahaan ini. Tentu saja aku marah. Aku merasa diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Aku merasa dibodoh-bodohin. Dan ini juga menghantui hari-hari kerjaku.</p>
<p>Tentu saja aku tidak tahan. Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin perasaanku reda dan tenang. Pikiran tidak selalu memikir-mikirkan hal ini. Tapi, aih, ternyata tidak semudah itu. Ternyata perasaan dan pikiranku tidak juga patuh pada keinginanku. </p>
<p>Maka, aih, disini aku harus menyadari kalau perasaan dan pikiranku ternyata memiliki kemauan-kemauannya sendiri, berbeda dengan kemauanku. Berbeda dengan keinginanku. Mereka justru melakukan hal-hal yang tidak aku maui. Yang tidak aku inginkan.</p>
<p>Tidak heran kalau Arjuna pun mengeluhkannya. “But, Khrisna, the mind is inconstant: in its restlessness I cannot find rest. The mind is restless, Khrisna, impetuous, self-willed, hard to train: to master the mind seems as difficult as to master the mighty winds (The Bhagavad Gita II, 33 - 34).”</p>
<p>Lalu disinilah aku sampai; dengan kemampuan yang seperti ini, dari manakah aku lalu mengaku memliki kehendak bebas. Free Will. Kalau hanya untuk mengendalikan perasaan dan pikiran sendiri aku tidak mampu. Sekedar terbebas dari kecenderungan daging dan tulangku sendiri saja akupun tidak mampu.</p>
<p>Lalu, bagaimana aku dapat keluar dari mindset keluarga dan lingkunganku tempat aku bertahun-tahun dibesarkan. Bagaimana aku dapat terbebas dari pengaruh-pengaruh sosial-politik-budaya dimana aku berada di dalamnya. Bagaimana aku dapat mengaku aku mandiri. Mengaku berpikir jernih. Bebas dari subyektivitas.</p>
<p>Lebih lanjut, bagaimana aku bisa tega-teganya adigang-adigung dengan kebenaran menurut versi pikiran dangkalku ini? Bagaimana aku dapat begitu yakin dan memutlakkan pembacaan pikiran buramku atas Teks? Sekalipun itu Divine Teks?</p>
<p>Hehehe. Pissss, man. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=244</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WU-WEI</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=243</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=243#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 03:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Filosofi Tao memperkenalkan konsep Wu-Wei. Konsep Non-Action. Atau lebih tepatnya, konsep Non-Pushing. Suatu konsep yang meyakini bahwa keseluruhan aktivitas di seluruh alam semesta ini adalah aktivitas yang tanpa pemaksaan. Ia mengalir. Dengan sendirinya. Dan oleh karenanya, adalah fitrah kemanusiaan jugalah untuk hidup serupa itu.
Hambatan paling utama yang cenderung menghambat bertumbuhnya konsep ini dalam kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Filosofi Tao memperkenalkan konsep Wu-Wei. Konsep Non-Action. Atau lebih tepatnya, konsep Non-Pushing. Suatu konsep yang meyakini bahwa keseluruhan aktivitas di seluruh alam semesta ini adalah aktivitas yang tanpa pemaksaan. Ia mengalir. Dengan sendirinya. Dan oleh karenanya, adalah fitrah kemanusiaan jugalah untuk hidup serupa itu.</p>
<p>Hambatan paling utama yang cenderung menghambat bertumbuhnya konsep ini dalam kehidupan keseharian kita adalah identitas konseptual. Dan khususnya, kecenderungan kita untuk Playing a role, memainkan peran. Kita memeluk sebuah identitas konseptual, dan mengokohkannya dengan playing a role. Keduanya, identitas konseptual dan playing a role, sangat sering menjerumuskan kita ke dalam tindakan untuk selalu memegang kontrol. Mengendalikan. Dan cenderung mudah merasa benar sendiri dengan ”bersembunyi” di belakangan keduanya.</p>
<p>Di kantor, kita sangat sadar diri kalau kita adalah manager. Dan apa peran manager? Mengatur dan mengendalikan. Seolah itulah satu-satunya peran manager. Di rumah, seorang pria sangat sadar diri kalau dirinya adalah suami. Dan apa peran suami di hadapan istri? Mengatur dan mengendalikan. Mungkin membimbing. Seolah itulah satu-satunya peran suami. Dan demikianlah seorang boyfriend terhadap girlfriendnya. Seorang ayah-ibu terhadap anak-anaknya. Seorang kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Dan seterusnya.</p>
<p>Tentu saja tidak ada salahnya memegang identitas konseptual dan sekaligus playing a role. Hanya, selalu patut disadari, bahwa adakalanya, melepaskan identitas konseptual dan mengijinkan diri untuk tidak selalu playing a role, akan menghasilkan cara pandang dan cara bersikap berbeda.</p>
<p>Ini membuktikan, betapa amat dangkal dan lemahnya alat serap kita atas kebenaran. Apalagi Kebenaran. Dan, hidup dalam Love, Joy and Happiness, mungkin, adalah hadiah utama dari kemampuan kita untuk hidup dalam Wu-Wei ini.</p>
<p>Mudah-mudahan. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=243</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ANALYTICAL MIND</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=242</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=242#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 02:06:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Analytical Mind adalah pisau cukur yang tremendously tajam. Tentu saja sangat bermanfaat. Sangat banyak. Semua pencapaian duniawi kita; science-teknologi, sosial-ekonomi, filsafat dan agama, kebudayaan, dan sebagainya, adalah hasil positif analytical mind.
1.
Tetapi harus selalu disadari bahwa ada juga pengaruh buruknya. Dan bahkan sedemikian berbahayanya pengaruh buruknya sampai-sampai ia sanggup menutupi secara menyeluruh kesadaran sejati kita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Analytical Mind adalah pisau cukur yang tremendously tajam. Tentu saja sangat bermanfaat. Sangat banyak. Semua pencapaian duniawi kita; science-teknologi, sosial-ekonomi, filsafat dan agama, kebudayaan, dan sebagainya, adalah hasil positif analytical mind.</p>
<p>1.<br />
Tetapi harus selalu disadari bahwa ada juga pengaruh buruknya. Dan bahkan sedemikian berbahayanya pengaruh buruknya sampai-sampai ia sanggup menutupi secara menyeluruh kesadaran sejati kita. Setidaknya dapat disebutkan, untuk sebagian, pengaruh buruk analytical mind ini adalah semua bentuk penderitaan dan ketidakbahagiaan mental yang kita kenyam selama ini.</p>
<p>Ini terutama disebabkan oleh kecenderungan alamiah analytical mind ini untuk menggelincirkan kita dari the Now, dari the Present. Kecenderungan dia untuk mengunyah-nguyah kejadian buruk di masa silam, dan atau mengangan-angankan kejadian serupa di masa yang akan datang. Hasil akhirnya adalah kesedihan dan penderitaan. Kecemasan. Atau secara keseluruhan, terlepasnya kegembiraan dan kebahagiaan.</p>
<p>Bahkan, pada saat-saat penting ketika kita sedang menikmati keindahan atau kebahagiaan karena suatu kejadian atau keadaan, analytical mind sangat sering mengganggu kita dengan menyerobot kita dengan kesibukan untuk me-label dan menganalisa. Kita dapat mengamati sendiri, betapa setiap analytical mind ini masuk dan menyibukkan diri untuk me-label dan menganalisa, maka dengan serta merta setiap keindahan dan kebahagiaan yang kita nikmati akan langsung pudar.</p>
<p>2.<br />
Harus selalu disadari bahwa analytical mind sebenarnya hanyalah sebuah aspek sangat kecil dari keseluruhan kesadaran kita. Aspek sangat kecil, dan juga bukan aspek yang terpenting bagi kemanusiaan. Dalam perjalanan evolusi kesadaraan kemanusiaan, sudah waktunya kita untuk terus melangkah ke tahap beyond analytical mind.</p>
<p>Kita telah meninggalkan subconscious mind. Yang merupakan area dari tumbuhan dan binatang. Analytical mind berada dalam area conscious mind. Tapi, sudah waktunya kita melangkah terus ke area superconscious mind dan supraconscious mind.</p>
<p>Keindahan, cinta, compassion, courage, justice, and so on,  justru muncul dari ketiadaan analytical mind. Dari adanya gap pada arus analytical mind. Muncul dari ketiadaan pemikiran. Dari Kekosongan. Dari kedalaman stillness. Dari area superconscious mind dan supraconscious mind.</p>
<p>3.<br />
Maka, pada saat demikian kita tahu, kebuntuan pemikiran, tidak berarti kiamat. Ketidakmampuan memahami sesuatu dengan logika, bukanlah akhir dari segala-galanya.</p>
<p>Tapi juga sebaliknya, kebenaran menurut logika, bukanlah satu-satunya. Kebenaran menurut logika, tidak lalu mengesahkan kebenaran itu sebagai kebenaran mutlak.</p>
<p>Sehingga, please, jangan maen mutlak-mutlakan yah?</p>
<p>Hehehe. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=242</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEBEBASAN BERAGAMA</title>
		<link>http://justsomenotes.com/?p=241</link>
		<comments>http://justsomenotes.com/?p=241#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 08:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>HH</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion-Spirituality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://justsomenotes.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Justsomenotes.Jakarta. Akhir-akhir ini ada banyak spanduk dari sebuah partai yang bertebaran di jalan-jalan, yang menggaungkan kemarahan: ”Kami mengutuk keras gerakan Kebebasan Beragama yang tanpa Batas.”
Pikiran paling sederhana yang langsung muncul sebagai reaksi adalah; ”Aneh. Orang beragama aja kok masih dikutuk. Kayak mengutuk Koruptor ma Perampok aja.”
Maka, supaya kita tidak usah saling bermusuhan, supaya hidup kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Justsomenotes.Jakarta. Akhir-akhir ini ada banyak spanduk dari sebuah partai yang bertebaran di jalan-jalan, yang menggaungkan kemarahan: ”Kami mengutuk keras gerakan Kebebasan Beragama yang tanpa Batas.”</p>
<p>Pikiran paling sederhana yang langsung muncul sebagai reaksi adalah; ”Aneh. Orang beragama aja kok masih dikutuk. Kayak mengutuk Koruptor ma Perampok aja.”</p>
<p>Maka, supaya kita tidak usah saling bermusuhan, supaya hidup kita ini bisa lebih damai dan indah, tidak bisakah tuan itu tidak usah mengutuk kanan-kiri? Atau kalau tuan memang tidak setuju, tidakkah cukup dengan mengatakan; ”Kami tidak setuju dengan gerakan Kebebasan Beragama. Kami tidak sependapat.”</p>
<p>Dan karena kebetulan tuan yang dengan gagahnya mengutuk-ngutuk ini adalah berasal dari partai dengan asas Islam, maka aku cuman bertanya-tanya dalam hati; pernahkah Rasulullah Muhammad dahulu kala mengutuk-ngutuk orang lain hanya karena mereka memeluk agama lain, dan tidak memeluk Islam?</p>
<p>Ah. Aneh-aneh aja. <img src='http://justsomenotes.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://justsomenotes.com/?feed=rss2&amp;p=241</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
