ANALISA SARINGAN

[Maaf, pak, saya mencuri ide bapak untuk keperluan ini]

1.
Siang itu di ancol. Untuk menghilangkan pikiran suntuk, aku bersantai di ancol. Dengan seorang teman.

“Kamu itu tidak tampan, cong. Kamu tidak tinggi atletis. Tidak putih mulus. Bahkan tidak juga kaya.” Temanku nyerocos. Dan aku bengong.

“Begini, aku perjelas.” Lanjutnya. “Kamu itu jelek. Kamu itu kurus kerempeng. Hitam. Dan lebih dari itu kamu juga miskin. Lalu apa yang mau kamu andalkan? Apa yang kamu mau sombongkan?”

Aku mulai mengerti arah omongannya. Tapi aku masih juga bengong. Karena tiba-tiba, gitu.

“Setiap kamu menyukai seorang gadis, selalu dia yang terbaik di lingkungannya. Di angkatannya. Dulu E. Lalu R. Lalu sekarang entah siapa lagi. Apa yang kamu cari?”

Siang itu di ancol. Pikiranku tambah suntuk.

Huh.

2.
Untuk kebutuhanmu akan seorang PRT atau mungkin Baby Sitter, tentu saja engkau tidak butuh seseorang dengan kemampuan memahami Neraca, Laba/Rugi, Cash flow, Price to Book Value, Price Earning Ratio, Stochastic Oscillator atau Trendlines.

Untuk kebutuhan tuan akan seorang tukang kebun, tuan tentu saja tidak butuh seseorang yang hebat dalam Fisika Kuantum, LAN atau Network, A to Z about Corporation, Psikologi Industri, Management Portofolio, Stoic Philosophy, atau semacamnya.

Yah, engkau tahulah seperti apa PRT, Baby Sitter dan tukang kebun.

3.
Adalah wajar, bila seorang pimpinan proyek; menginginkan team yang terbaik untuk proyeknya. The Best Team boleh dibilang adalah jaminan kesuksesan.

Tapi, apa the Best team itu? Mengumpulkan semua orang dengan level competency seorang manajer dalam team proyek untuk berbagai posisi, yang pastinya tidak selalu untuk posisi manajer; tentu saja tidak mungkin. Kumpulan orang-orang “terbaik” itu akan justru merusak proyek. Mengumpulkan jenius-jenius visioner, pemikir-pemikir futuristic; juga tidak akan membuat proyek jalan. Proyek akan bergelimang ide-ide cemerlang, tapi belum tentu ada yang becus mengeksekusinya. Mengumpulkan pekerja-pekerja keras saja, tapi kurang dalam pemikiran, hanya akan membuat proyek penuh dengan orang-orang yang maen seruduk saja.

Sebuah proyek membutuhkan orang-orang dengan kemampuan yang sesuai; untuk beragam jenis kemampuan, dan beragam level kemampuan.

Aku kira sebuah korporasi tidak akan beda juga.

4.
Ini mengingatkan aku akan Sieve Analysis dalam Civil Engineering. Analisa Saringan. Ini dibutuhkan jika engkau akan membuat Mix Design Beton dan /atau Job Mix Formula Asphalt Beton. Intinya, untuk keperluan membuat beton dan atau asphalt beton itu, engkau membutuhkan campuran aggregate. Mulai dari aggregate kasar sampai aggregate halus. Kita memiliki alat yang disebut dengan saringan atau ayakan. Mulai dari saringan atau ayakan dengan lubang-lubang dengan diameter yang besar, mungkin 2 sampai 3 cm, untuk menahan aggregate kasar, sampai yang berlubang sangat halus, untuk menahan aggregate halus hingga abu batu. Ada banyak ukuran saringan atau ayakan. Mungkin belasan. Dan untuk kebutuhan beton dan asphalt itu; setiap ukuran saringan atau ayakan dibutuhkan sejumlah prosentase tertentu aggregate yang tertahan disitu. Maksudnya, untuk menciptakan beton dan asphalt beton dengan kualitas yang baik, dibutuhkan aggregate dari beragam ukuran dengan suatu jumlah tertentu yang sesuai. Agregat kasar, ukuran 2~3 cm ada sebanyak x persen. Ukuran aggregate 1~2 cm ada sebanyak y persen. Ukuran 0.5~1 cm ada sebanyak z persen. Dan seterusnya.

Ukuran tertentu dengan jumlah tertentu yang sesuai ini kita kenal dengan Well-Graded. Sementara, terlalu banyak ukuran2~3 cm, misalnya, disamping itu kurang dan bahkan tidak ada ukuran yang lain; kita sebut Pour-Graded. Aggregat terlalu seragam, dan ini jelek; tidak dapat menciptakan beton dan atau asphalt yang kokoh.

Dan engkau yang dari Civil Engineering tahu belaka hal ini. Dan biarlah kuberitahu; kayaknya, inipun tidak hanya cocok untuk beton dan asphalt beton, tapi juga cocok untuk proyek ataupun korporasi.

Dan kita ini adalah agregat-agregat itu.

5.
Temanku itu memang kejam dalam omongannya. Tapi, apa boleh buat, aku juga memang naïf.

Hehehe.

:)

[Archive, Jakarta, Tuesday, Jun 30, 2009]

Leave a Reply