BERAGAMA

Aku menemukan sebuah catatan lama. Sebuah surat untuk seorang sahabat. Mungkin hanya sebuah draft, artinya, surat itu mungkin tidak jadi dikirimkan. Aku lupa.

Ini tentang sikapku terhadap agama. Dan tentang bagaimana aku beragama.

Baiklah aku kutipkan saja.

Jakarta, Wednesday, Jun 27, 2007
Friend, tahu bagaimana aku memikirkan agama? Biarlah nanti kita bicarakan.

Sekarang aku ingin cerita tentang makanan aja dulu. Yang ringan-ringan. Tentang kesukaanku akan makanan. Dan tentu saja, soto; dan tahukah kamu Friend, kalau di seantero Indonesia ini, soto paling enak menurutku adalah soto buatan ibuku? Tentu saja juga, goreng telor; dan tahukah kamu Friend, kalau setua ini, goreng telor paling enak yang pernah aku makan adalah goreng telor buatan ibuku?

Atau, mungkinkah kamu juga pernah merasakan kalau minum kopi paling enak menurutmu adalah minum kopi seduhan istrimu, di pagi hari, tepat sesaat setelah kamu bangun tidur?

Pernah memikirkan fenomena ini, Friend?

Kalau menurutku nih, Friend; ini adalah masalah Yang Pertama dan Kebiasaan. Yang Pertama akan selalu menjadi patok Referensi. Yang Pertama akan selalu menjadi alat ukur bagi yang sesudahnya. Dan, ditambah dengan Kebiasaan, maka Yang Pertama akan menjadi Yang Terbaik.

Itulah yang terjadi dengan Soto dan Goreng Telor, bagiku; dan mungkin juga dengan Minum Kopi bagi orang lain.
***

Aih, jangan-jangan Agama sama saja seperti itu?
***

Friend, sejak usia SMP aku sudah terbiasa dengan Safinah-Sullam-Bidayah; rangkaian kitab paling dasar dan sederhana dalam Fiqh, Kalam dan Tasawuf. Belakangan, di usia SMA hingga tahun-tahun pertama Perguruan Tinggi, kajian Fiqhnya sempat aku perdalam dengan Fathul Qari, Fathul Muin dan Fathul Bari. Kalam dengan Tahafut al Falasifah. Dan sedikit-sedikit, Tasawuf dengan Al Hikam dan Ihya Ulumuddin. Tentu saja, Friend, tidak ketinggalan; Kitab semacam Riyadhus Salihin, Bulughul Maram, maupun Sahih Bukhari – Muslim. Tafsir Favorit adalah Fi Dzilalil Qur’an dan Al Azhar, disamping yang paling standard AL Jalalein dan Ibnu Katsir.

Belajar juga ilmu Nahwu – Sharaf, juga Balaghah dan mantiq; tapi, yah, nol besar. Pernah nyoba juga belajar Usul FIqh dan Musthalah Hadits. Minus tebal.

Apa IQ-ku jongkok ya? … Mungkin, tapi kiraku ga parah-parah amat … hehehe …

Tapi, apa aku tahu cukup banyak tentang Islam? Sehingga bisa memandang Islam secara relative menyeluruh? Sehingga bisa tahu dimana jurang dan tanjakannya? Sehingga bisa tahu dimana tikungan-tikungannya?

Tidak Friend, ku kira tidak. Kalau saja pemahamanku tentang Islam bisa sekaliber Nurcholis Madjid atau Gus Dur, atau Kyai dan Para Guru itu; mungkin aku akan mengatakan aku cukup tahu tentang Islam. Tapi, kenyataannya; tidak demikian, Friend.

Dan, aih; setelah semua waktu yang aku habiskan untuk itu, aku belum juga tahu cukup banyak?

Aih, apalagi dengan, maaf, orang-orang yang tidak seberuntung aku hidup di lingkungan pesantren, sehingga bahkan mungkin saja tidak kenal sekedar dengan nama kitab-kitab yang aku sebutkan itu? Lalu bagaimana dapat mengenal Islam dengan cukup komprehensif?
***

Maksudku adalah begini, Friend; kalau kita tidak dapat mengenal ajaran Islam secara menyeluruh, bagaimana kita bisa begitu yakin akan Kebenaran Islam? Kalau kita tidak pernah secuilpun belajar tentang segala macam agama yang ada di dunia ini; Jew, Christian, Buddhism, Hindu, Tao, Kong Hu Cu, Zen, Shinto, etc; bagaimana kita begitu nyaman sekedar mengatakan agama-agama itu salah dan sesat?

Friend, secara intelektual; aku hanya merasa tidak nyaman.
***

Lalu, bagaimana aku beragama? Yah, mungkin seperti aku mengenal soto dan goreng telor; karena itulah yang Pertama kali aku kenal, dan yang dengannya aku terbiasa.

Hehehe.
***

Dan kalau hanya secara itu aku beragama, dan kebanyakan kita adalah demikian; bagaimana aku dapat begitu gagah menyalah-nyalahkan orang lain, lalu mengklaim sebagai orang paling beruntung telah berada dalam terang Islam? Sekedar beruntung?

Dan kalau aku merasa bahwa IQ-ku tidaklah jongkok-jongkok amat, tapi masih sebodoh itu caranya dalam beragama, maka mengapa aku musti tidak dapat memahami kalau orang lainpun begitu juga caranya dalam beragama? Sekedar mengikuti apa yang dikatakan oleh leluhurnya? Oleh lingkungannya?

Maka baiklah, kita tidak usah saling menghakimi keyakinan orang lain. Maka baiklah, kita masing-masing menekuni saja apa yang kita yakini.

Tapi, untuk mengetahui bahwa kita adalah semuanya sama-sama manusia, adalah tidak sulit, dan tidak perlu menggunakan ajaran-ajaran, bukan?

Cintailah sesamamu …

Apa sulitnya?

[Archive, Jakarta, Tuesday, Dec 10, 2009]

Leave a Reply