KESIBUKAN TANPA NILAI TAMBAH

Take them by confusion .. use anger to throw them into disarray .. tire them by flight .. cause division among them .. attack when they are unprepared [The Art of War, Sun Tzu]

 Justsomenotes.Jakarta. Tapi, ilmu untuk mengalahkan musuh yang diajarkan oleh Eyang Sun Tzu ini, dapat juga kita gunakan untuk menghancurkan anak buah sendiri. Menghancurkan tim sendiri. Sampai sedemikian hingga, kinerja tim atau anak buah sendiri menjadi cukup jelek untuk kemudian dapat dicela dan dinyatakan gagal. Dan kita lalu menjadi superior, karena telah dapat menyatakan bahwa orang lain jelek dan gagal.

 Tentu ini tidak dilakukan dengan segaja. Melainkan karena ketidaktahuan belaka. Tapi, hasilnya sama saja. Kehancuran.

 Is that what you want?

 1.

Ini bermula pada diri sendiri. Ketidaktahuan diri sendiri. Ketidakjelasan vision sendiri. Ketidakmantapan rule sendiri. Lalu, apapun yang hendak dimintakan untuk dilakukan anak buah atau tim, dengan sendirinya juga menjadi tidak jelas. Command isn’t clear. Perintah tidak tegas. Aturan maen membingungkan.

 Hasilnya adalah kebingungan. Bosnya bingung. Anak buah atau tim bingung. Tentu saja produktivitas organisasi menjadi rendah dan tidak bermakna.

 2.

Melihat efektivitas anak buah atau tim rendah, cara paling mudah bos untuk menghandlenya adalah dengan marah-marah. Menjadi egoistik dan tidak manusiawi. Tapi, ketika bos marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi, jangan dikira bahwa yang bisa dilakukan anak buah atau tim hanyalah ketakutan. Anak buah dan tim bisa juga marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi.

 Bos marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi. Anak buah atau tim marah-marah, egoistic dan tidak manusiawi. Hasilnya adalah ketegangan dan chaos. Pemberontakan. Undiscipliner. Tentu saja produktivitas organisasi tidak dapat diharapkan dalam keadaan demikian.

 3.

Tapi, kejadiannya memang tidak perlu selalu segawat itu.  Boleh jadi sebenarnya bosnya cukup baik. Mungkin hanya kurang smart. Kurang efektif. Perintahnya atas anak buah atau tim hanya tidak bermutu. Tidak bisa memilah-milah mana yang essensial mana sampah. Bisanya sekedar puas telah berhasil memerintah. Puas telah menunjukkan kekuasaan.

 Maka, anak buah atau tim lalu kelihatan sibuk. Organisasi kelihatan aktif. Tapi, ini tidak berarti selalu bagus. It’s not enough to be busy. The question is what you are busy about, khan?

 Orang-orang sibuk. Orang-orang kelelahan. Tapi hasil bisa saja tetap nol.

 4.

Mungkin juga karena engkau punya kepribadian negative, seperti misalnya kecenderungan untuk nge-clique, nge-gossip. Suka bersekongkol dengan orang yang engkau sukai. Tapi, sekaligus juga nge-gossip menjelek-jelekkan orang yang tidak engkau sukai. Engkau sangat permissive kepada orang yang engkau sukai. Engkau sangat kritis kepada orang yang tidak engkau sukai. Reward and punishment rule tidak jalan.

 Maka, hasilnya adalah anak buah atau tim yang terpecah belah. Tidak bersatu. Tidak akur. Kekuatanpun pecah.

 2.

Dalam kondisi demikian, organisasi akan lemah. Tanpa ruh. Jadi, ketika seharusnya ajaran eyang Sun Tzu itu adalah untuk mengalahkan musuh, eh yang terjadi justru senjata makan tuan. Menusuk diri sendiri. Mungkin adalah karena ketidaktahuan. Ketidaksadaran. Kemalasan untuk belajar memahami diri sendiri.

 Kekalahan adalah hasilnya akhirnya.

 So, please, don’t do it deh.

:)

Leave a Reply